Legenda Tujuh Kepala Ular

Legenda Tujuh Kepala Ular

January 31, 2021 0 By sendaru12

Legenda Tujuh Kepala Ular – Pada suatu masa rakyat kerajaan Kutei Rukam di Lebong, Bengkulu, senang. Putra Mahkota Gajah Meram bakal menikahi seorang putri dari Kerajaan Suka Negeri.

Legenda Tujuh Kepala Ular

nishimura-seitai – Raja Bikau Bermano meminta rakyatnya untuk mempersiapkan pesta yang hebat. Salah satu prosesi pernikahan adalah pengantin wanita dan mempelai pria mesti mandi di Danau Tes. Ketika mereka tengah berenang, tiba-tiba sang pangeran dan sang putri menghilang.

Para tentara langsung melompat ke danau. Tetapi mereka tidak dapat mendapatkan pangeran dan putri. Mereka terlalu bingung mengapa pangeran dan putri tiba-tiba menghilang.

Mengetahui hal itu Raja terlalu sedih. Dia meminta seluruh prajurit untuk berenang. Namun senantiasa saja pangeran dan puteri tidak dapat ditemukan. Belakangan seorang Laki-laki suci tua berkunjung ke raja.

Dia menyebutkan bahwa pangeran dan putri diculik oleh ular berkepala tujuh. Dia adalah raja ular dan dia punya banyak prajurit ular. Satu-satunya orang yang dapat mendukung adalah seorang pemuda yang punya keterampilan hebat di dalam seni bela diri dan kapabilitas gaib.

Pria muda yang ia maksudkan adalah putra bungsu raja. Namanya adalah Pangeran Gajah Merik. Dia terhitung murid dari orang suci itu. Raja terlalu tersentuh disaat Pangeran Gajah Merik bersedia mendapatkan kakak laki-lakinya dan istri saudaranya.

Bagi anda yang suka bermain game online silahkan kunjungi link berikut : Taruhan Bola

Orang suci berikan jelas Pangeran Gajah Merik supaya tidak takut pada bangsa ular.

Pangeran Gajah Merik pun masuk ke di dalam danau dan melawan tentara ular dengan berani. Tentara ular tidak dapat melawannya. Gajah Merik terlalu kuat. Dia dapat dengan gampang membunuh tentara ular.

Dan kelanjutannya dia berhadapan langsung dengan raja ular. Dia adalah ular berkepala tujuh. Raja ular terlalu marah, jelas para tentaranya banyak yang mati ditangan pangeran Gajah Merik.

“Hei, anda manusia! Mengapa anda membunuh seluruh prajuritku?” bertanya raja ular.

“Mereka berusaha menghentikanku. Aku menginginkan membebaskan kakak laki-lakiku dan istrinya.”
“Aku bakal membebaskan mereka. Tapi anda mesti melakukan dua hal. Pertama anda mesti memicu prajuritku yang mati hidup lagi. Dan kedua, anda mesti mengalahkan saya tentu saja. Hahaha.”

Dengan kekuatannya, Gajah Merik menyentuh ular yang mati. Hebatnya, mereka hidup kembali. Kemudian, pangeran dan raja ular berkelahi.

Berbeda dengan prajurit ular, raja ular itu terlalu kuat. Dia hampir membunuh Gajah Merik. Untungnya, Gajah Merik punya kesaktian yang lebih baik. Dan sesudah bertarung selama tujuh hari. Gajah Merik memenangkan pertarungan. Raja ular meminta Gajah Merik untuk memaafkannya dan membebaskannya. Gajah Merik mulai kasihan dan dia membebaskan raja ular dan pasukannya pergi.

Kemudian, Gajah Merik membawa Gajah Meram dan istrinya kembali ke istana. Raja terlalu senang. Ia terhitung memiliki rencana menjadikan Gajah Meram menjadi raja baru. Namun, Gajah Meram menolaknya. Dia menyebutkan Gajah Merik lebih baik menjadi raja berikutnya. Dia terlalu berani dan kuat. Dia terhitung punya hati yang luar biasa. Dia senang mengorbankan dirinya.

Gajah Merik setuju untuk menjadi raja berikutnya. Tetapi dia meminta ayahnya untuk membebaskan raja ular dan prajuritnya menjadi prajuritnya. Raja setuju. Sejak itu, raja ular dan prajuritnya menjadi prajurit Gajah Merik.

Hingga pas ini, penduduk di Lebong, Bengkulu, yakin bahwa ada ular berkepala tujuh yang merawat danau Tes. Mereka tidak berani menyebutkan kata-kata buruk pas melintasi danau. Kalau tidak, ular berkepala tujuh ini bakal marah, dan dapat memicu kerjadian yang tidak diinginkan.