Legenda Sawerigading – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Legenda Sawerigading – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

January 18, 2021 0 By sendaru12

Legenda Sawerigading – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan – Sawerigading merupakan Putra Mahkota Raja Luwu Batara Lattu’, berasal dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dalam bhs asal, sawerigading berasal berasal dari dua kata, yakni sawe yang bermakna menetas (lahir), dan ri gading yang bermakna di atas bambu betung. Jadi, sawarigading bermakna keturunan berasal dari orang yang menetas (lahir) di atas bambu betung. Menurut cerita, kala Bataraguru (kakek Sawerigading yang merupakan keturunan dewa) pertama kali diturunkan ke bumi, ia ditaruh di atas bambu betung. Sawerigading mempunyai saudara kembar perempuan yang bernama We Tenriabeng. Tapi, sejak kecil hingga dewasa mereka dibesarkan secara terpisah, supaya mereka tidak saling mengenal. Suatu ketika, kala bertemu bersama adik kandungnya itu, Sawerigading jatuh cinta dan punya niat untuk melamarnya. Berhasilkah Sawerigading menikahi We Tenriabeng, saudara kandungnya itu? Kisah selengkapnya mampu Anda ikuti didalam leganda Sawerigading selanjutnya ini.

Legenda Sawerigading – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

legenda-sawerigading-cerita-rakyat-sulawesi-selatan

nishimura-seitai.com – Menurut hikayat, di daerah Luwu, Sulawesi Selatan, hiduplah seorang raja bernama La Togeq Langiq atau dikenal bersama panggilan Batara Lattu’. Sang Raja mempunyai dua istri, yakni satu berasal dari golongan manusia biasa (penduduk dunia nyata) bernama We Opu Sengngeng, dan satu lagi berasal berasal dari bangsa jin. Dari perkawinannya bersama We Opu Sengengeng lahir sepasang anak kembar emas, yakni seorang laki-laki bernama Sawerigading, mgslotonline dan seorang perempuan bernama We Tenriabeng. Berdasarkan ramalan Batara Guru (ayah Raja Luwu), Sawerigading dan We Tenriabeng kelak akan saling jatuh cinta dan menikah. Padahal menurut rutinitas setempat, seseorang benar-benar pantang menikahi saudara kandung sendiri. Agar tidak melanggar rutinitas tersebut, Raja Luwu pun membesarkan kedua anak kembarnya selanjutnya secara terpisah. Ia menyembunyikan anak perempuannya (We Tenriabeng) di atas loteng istana sejak masih bayi.

Waktu konsisten berjalan. Sawerigading tumbuh jadi pemuda yang gagah dan tampan, tetapi We Tenriabeng tumbuh jadi gadis yang cantik jelita. Namun, sepasang anak kembar selanjutnya belum saling mengenal.
Pada suatu hari, Sawerigading bersama sejumlah pengawal istana diutus oleh ayahnya berlayar ke Negeri Taranati (Ternate) untuk mewakili Kerajaan Luwu didalam sebuah pertemuan para pangeran. Namun memang tujuan utama Sawerigading diutus pergi jauh ke Ternate gara-gara saudara kembarnya We Tenriabeng akan dilantik jadi bissu didalam sebuah upacara umum, yang tentu saja tidak boleh dihadirinya gara-gara dikhawatirkan akan bertemu bersama We Tenriabeng.

Dalam perjalanan menuju ke Negeri Ternate, Sawerigading mendapat kabar berasal dari seorang pengawalnya bahwa ia mempunyai saudara kembar yang cantik jelita. Sawerigading tersentak kaget mendengar kabar tersebut.

“Apa katamu? Aku mempunyai saudara kembar perempuan?” tanya Sawerigading bersama kaget.

“Benar, Pangeran! Saudaramu itu bernama Tenriabeng. Ia disembunyikan dan dipelihara di atas loteng istana sejak masih kecil,” ungkap pengawal itu.

Sekembalinya berasal dari Ternate, Sawerigading langsung mencari saudara kembarnya yang disembunyikan di atas loteng istana. Tak pelak lagi, Sawergading langsung jatuh cinta kala melihat saudara kembarnya itu dan menentukan untuk menikahinya. Raja Luwu Batara Lattu’ yang paham rahasia keluarga istana selanjutnya terbongkar langsung memanggil putranya itu untuk menghadap.

“Wahai, Putraku! Mengharap pendamping hidup untuk saling menentramkan hati bukanlah hal yang keliru. Tapi, kudu anda ketahui bahwa menikahi saudara kandung sendiri merupakan pantangan terbesar didalam rutinitas istiadat kita. Jika rutinitas ini dilanggar, bencana akan menimpa negeri ini. Sebaiknya urungkanlah niatmu itu, Putraku!” bujuk Raja Luwu Batara Lattu’.

Namun, bujukan Ayahandanya selanjutnya tidak menyurutkan kemauan Sawerigading untuk menikahi adiknya. Namun, pada akhirnya Sawerigading mengalah setelah We Tenriabeng memberitahunya bahwa di Negeri Cina (bukan Cina di Tiongkok, tetapi di daerah Tanete, Kabupetan Bone, Sulawesi Selatan) mereka mempunyai saudara sepupu yang benar-benar sama dengannya.

“Bang! Pergilah ke Negeri Cina! Kita mempunyai saudara sepupu yang bernama We Cudai. Ayahanda dulu bercerita bahwa saya dan We Cudai bagai pinang dibelah dua,” bujuk We Cudai.

“Benar, Putraku! Wajah dan perawakan We Cudai sama benar bersama adikmu, We Tenriabeng,” sahut Raja Luwu Batara Lattu’.

Untuk tunjukkan kebenaran kata-katanya, We Tenriabeng menambahkan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincinnya kepada Sawerigading. We Tenriabeng terhitung berjanji jika perkataannya tidak benar, ia berbersedia menikah bersama Sawerigading.

“Bang! Jika rambut ini tidak sama panjang bersama rambut We Cudai, gelang dan cincin ini tidak cocok bersama pergelangan dan jarinya, saya bersedia menikah bersama Abang,” kata We Tenriabeng.

Akhirnya, Sawerigading pun bersedia berangkat ke Negeri Cina, walaupun dihatinya ada rasa kecewa kepada orang tuanya gara-gara tidak diizinkan menikahi adiknya. Untuk berlayar ke Negeri Cina, Sawerigading kudu gunakan kapal besar yang terbuat berasal dari kayu welérénngé (kayu belande) yang mampu mencegah hantaman badai dan ombak besar di tengah laut.

“Wahai, Putraku! Untuk mencukupi keinginanmu memperistri We Cudai, besok pergilah ke hulu Sungai Saqdan menebang pohon welérénngé raksasa untuk dibikin perahu!” perintah Raja Luwu Batara Lattu’.

Keesokan harinya, berangkatlah Sawerigading ke daerah yang dimaksud ayahnya itu. Ketika hingga di daerah itu, ia pun langsung menebang pohon raksasa tersebut. Anehnya, walaupun batang dan pangkalnya udah terpisah, pohon raksasa itu selamanya tidak berkenan roboh. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Keesokan harinya, Sawerigading lagi menebang pohon ajaib itu, tetapi hasilnya selamanya sama. Kejadian aneh ini terulang hingga tiga hari berturut-turut. Sawerigading pun menjadi putus asa dan hatinya benar-benar galau mengayalkan apa gerangan penyebabnya.

Mengetahui kegalauan hati abangnya, terhadap malam harinya We Tenriabeng secara diam-diam pergi ke hulu Sungai Saqdan. Sungguh ajaib! Hanya sekali tebasan, pohon raksasa itu pun roboh ke tanah. Dengan pengetahuan yang dimilikinya, We Tenriabeng langsung merubah pohon raksasa itu jadi sebuah perahu layar yang siap untuk mengarungi samudera luas.

Keesokan harinya, Sawerigading lagi ke hulu Sungai Saqdan. Betapa terkejutnya ia kala melihat pohon welérénngé raksasa yang tak kunjung mampu dirobohkannya kini udah berubah jadi sebuah perahu layar.

“Hai, siapa yang melakukan semua ini?” gumam Sawerigading heran.

“Ah, tidak ada gunanya saya mengayalkan siapa yang udah membantuku menyebabkan perahu layar ini. Yang tentu saya kudu langsung pulang untuk mempersiapkan perbekalan yang akan saya bawa berlayar ke Negeri Cina,” pungkasnya seraya bergegas pulang ke istana.

Setelah mempersiapkan sejumlah pengawal dan perbekalan yang diperlukan, berangkatlah Sawerigading bersama rombongannya menuju Negeri Cina. Dalam perjalanan, mereka menemui berbagai tantangan dan halangan seperti hantaman badai dan ombak serta serangan para perompak. Namun, berkat izin Tuhan Yang Mahakuasa, Sawerigading bersama pasukannya sukses melalui semua halangan selanjutnya dan selamat hingga di tujuan.

Setibanya di Negeri Cina, Sawerigading mendengar kabar bahwa We Cudai udah bertunangan bersama seorang pemuda bernama Settiyabonga. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk melihat langsung kecantikan muka We Cudai. Untuk itu, ia pun menentukan untuk menyamar jadi pedagang orang oro (berkulit hitam). Untuk mencukupi penyamarannya, ia kudu mengorbankan satu nyawa orang oro sebagai tumbal. Pada mulanya, orang oro yang akan dijadikan tumbal selanjutnya mengiba kepadanya.

“Ampun, Tuan! Jika kulit saya dijadikan pembungkus tubuh Tuan, tentu saya meninggal.”

Namun, setelah Sawerigading membujuknya bersama tutur kata yang halus, pada akhirnya orang oro itu pun bersedia mencukupi permintaannya. Setelah itu, Sawerigading langsung menuju ke istana sebagai oro pedagang. Setibanya di istana, ia terkagum-kagum melihat kecantikan We Cudai.

“Benar kata Ayahanda, We Cudai dan We Tenriabeng bagai pinang dibelah dua. Perawakan mereka benar-benar serupa,” ucap Sawerigading.

Setelah tunjukkan kecantikan We Cudai, Sawerigading langsung mengirim utusan untuk melamarnya dan lamarannya pun di terima oleh keluarga istana Kerajaan Cina. Namun, sebelum pesta pernikahan dilangsungkan, We Cudai mengirim seorang pengawal istana untuk mengusut siapa memang calon suaminya itu.

Suatu hari, utusan itu mendekati perahu layar Sawerigading yang tengah bersandar di pelabuhan. Kebetulan, kala itu para pengawal Sawerigading yang berbulu lebat tengah mandi. Utusan itu ketakukan kala melihat tampang mereka yang dikiranya “orang-orang biadab” dan mengira bahwa bentuk Sawerigading sama bersama mereka. Ia pun langsung lagi ke istana untuk memberikan kabar selanjutnya kepada We Cudai. Mendengar kabar tersebut, We Cudai pun punya niat untuk membatalkan pernikahannya dan mengembalikan semua mahar Sawerigading.

Sawerigading yang mendengar kabar buruk selanjutnya langsung menghapus penyamarannya sebagai orang oro dan mengenaikan busana kebesarannya, lalu langsung menghadap Raja Cina. Sesampainya di istana, ia pun langsung menceritakan asal-usul dan maksud kedatangannya ke Negeri Cina.

“Ampun, Baginda Raja! Perkenalkan nama Ananda Sawerigading Putra Raja Luwu Batara Lattu’ berasal dari Sulawesi Selatan. Ananda datang menghadap mempunyai amanat Ayahanda, bersama harapan sudilah kiranya Baginda terima Ananda sebagai menantu Baginda,” ungkap Sawerigading.

“Hai, Anak Muda! Kamu jangan mengaku-ngaku! Apa buktinya bahwa anda adalah putra berasal dari saudaraku itu?” tanya Raja Cina.

Sawerigading pun langsung tunjukkan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincin bantuan We Tenriabeng kepada Raja Cina seraya menceritakan semua perihal yang dialaminya hingga ia mampu hingga ke Negeri Cina. Mendengar harapan dan permohonan saudaranya melalui keponakannya itu, Raja Cina terdiam sejenak, lalu berkata:

“Baiklah! Sekarang saya percaya bahwa anda adalah keponakanku. Ayahandamu dulu dulu mengirim kabar kepadaku bahwa ia mempunyai anak kembar emas. Anaknya yang perempuan muka dan perawakaannya sama bersama putriku.”

Untuk lebih menegaskan dirinya, Raja Cina langsung memanggil putrinya untuk menghadap. Tak berapa lama, We Cudai pun datang dan duduk di samping ayahandanya. Saat melihat pemuda tampan yang duduk di hadapan ayahandanya, We Cudai kelihatan gugup dan hatinya tiba-tiba berdetak kencang. Rupanya, ia jatuh hati kepada pemuda itu yang tak lain adalah Sawerigading.

“Ada apa gerangan Ayahanda memanggil Ananda?” tanya We Cundai tertunduk malu-malu.

“Wahai Putriku, ketahuilah! Sesungguhnya orang yang melamarmu beberapa hari yang lalu ternyata sepupumu sendiri. Namanya Sawerigading. Ayahanda bersaudara bersama ayahnya. Tapi, untuk menyakinkan kebenaran ini, coba anda cocokkan panjang rambut ini bersama panjang rambutmu dan pakailah gelang dan cincin ini!” pinta Raja Cina seraya menambahkan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincin itu kepada putrinya.

Setelah We Cudai mengenakan gelang dan cincin tersebut, maka tambah yakinlah Raja Cina bahwa Sawerigading benar-benar keponakannya. Gelang dan cincin selanjutnya sepenuhnya cocok dikenakan oleh We Cudai. Begitu pula rambutnya sama panjangnya bersama rambut We Tenriabeng.

“Bagaimana, Putriku! Apakah anda bersedia terima lagi lamaran Sawerigading untuk mempererat tali persaudaraan kita bersama keluarga Sawerigading di Sulawesi Selatan?” tanya Raja Cina.

“Baik, Ayahanda! Jika Ayahanda merestui, Ananda bersedia menikah bersama Sawerigading. Ananda mohon maaf gara-gara sebelumnya mengira Sawerigading bukan berasal dari keluarga baik-baik,” jawab We Cudai malu-malu.

Betapa bahagianya perasaan Raja Cina mendengar jawaban putrinya itu. Demikian pula yang dirasakan Sawerigading gara-gara lamarannya diterima. Dengan perasaan bahagia, ia langsung lagi ke kapalnya untuk memberikan berita gembira itu kepada para pengawalnya dan memerintahkan mereka untuk mengangkat semua barang bawaan yang ada di perahu ke istana untuk kepentingan pesta. Tiga hari kemudian, pesta pernikahaan itu pun dilangsungkan bersama meriah. Segenap rakyat Negeri Cina turut berbahagia melihat pesta pernikahan tersebut.

Setahun kemudian, Sawerigading dan We Cudai dikaruniai oleh seorang anak dan diberi nama La Galigo. Namun, bagi We Cudai, kebahagiaan selanjutnya menjadi belum lengkap jika belum bertemu bersama mertuanya. Suatu hari, ia pun mengajak suaminya ke Sulawesi Selatan untuk mendatangi mertuanya. Mulanya, Sawerigading menampik ajakan istrinya, gara-gara ia udah berjanji tidak mendambakan lagi ke kampung halamannya gara-gara kecewa kepada kedua orang tuanya yang udah menampik keinginannya menikahi saudara kembarnya. Namun, gara-gara istrinya konsisten mendesaknya, pada akhirnya ia pun menyetujuinya.
Keesokan harinya, berangkatlah sepasang suami istri itu bersama beberapa orang pengawal menuju Negeri Luwu. Akan tetapi, mereka tidak mempunyai serta putra mereka (La Galigo) gara-gara masih bayi. Dalam perjalanan, Sawerigading bersama rombongannya lagi menemui banyak rintangan. Perahu yang mereka tumpangi nyaris tenggelam di tengah laut gara-gara dihantam badai dan gelombang besar. Berkat bantuan Tuhan Yang Mahakuasa, mereka pun selamat hingga di Nengeri Luwu.

Setelah bertahun-tahun lamanya Sawerigading bersama istrinya tinggal di Negeri Luwu terdengarlah kabar bahwa di Tanah Jawa berkembang ajaran agama Islam. Sawerigading pun langsung memerintahkan pasukannya untuk memerangi ajaran tersebut. Namun apa yang terjadi setelah pasukannya tiba di Tanah Jawa? Rupanya, mereka bukannya memerangi penganut ajaran agama tersebut, tetapi justru berbalik memeluk agama Islam. Bahkan beberapa bagian pasukannya menentukan untuk menetap di Tanah Jawa.

Sementara bagian pasukan lainnya lagi ke Negeri Luwu untuk melaporkan kabar selanjutnya kepada Sawerigading dan sekaligus mengajaknya untuk memeluk agama Islam. Karena kesal atas penghianatan pasukannya itu dan tidak mendambakan masuk agama Islam, Sawerigading bersama istrinya menentukan untuk lagi ke Negeri Cina dan berjanji tidak mendambakan menginjakkan kaki lagi di Negeri Luwu. Dalam perjalanan pulang ke Negeri Cina, kapal yang mereka tumpangi karam di tengah laut. Konon, pasangan suami istri selanjutnya jadi penguasa buriq liu atau peretiwi (dunia bawah laut).

Demikian cerita Sawerigading berasal dari daerah Luwu, Sulawesi Selatan. Cerita di atas terhitung kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang mampu dijadikan pedoman didalam kehidupan sehari-hari. Pesan moral yang mampu dipetik berasal dari cerita di atas adalah ganjaran yang di terima berasal dari karakter tidak gampang putus asa. Sifat ini ditunjukkan oleh tingkah laku Sawerigading yang selamanya tabah didalam hadapi berbagai halangan dan cobaan untuk menggapai keinginannya, yakni menikahi We Cudai yang berada di Negeri Cina.