Hikayat Cerita Rakyat Si Kelingking

Hikayat Cerita Rakyat Si Kelingking

February 9, 2021 0 By sendaru12

Hikayat Cerita Rakyat Si Kelingking – Alkisah, hiduplah sepasang suami istri di sebuah desa di Pulau Belitung. Walaupun hidup miskin, mereka senantiasa rukun dan bahagia. Namun, mereka belum mempunyai anak. Mereka tidak putus asa, hampir tiap-tiap kala berdoa kepada Tuhan.

Hikayat Cerita Rakyat Si Kelingking

hikayat-cerita-rakyat-si-kelingking

nishimura-seitai – Ya, Tuhan! Karuniakanlah kepada kami seorang anak, biarpun sebesar kelingking!” Itulah doa yang senantiasa mereka panjatkan. Tidak berapa lama sang istri mengandung.

Beberapa bulan kemudian, sang istri pun melahirkan. Alangkah terkejutnya mereka, dikala menyaksikan bayinya hanya sebesar kelingking. Oleh karena itu, mereka memberinya nama Si Kelingking.

Pada awalannya mereka sukar menerimanya. Walaupun badannya sangat kecil, tetapi Si Kelingking bisa menggunakan makanan yang banyak. Kesabaran mereka layaknya sirna hadapi Si Kelingking yang sangat rakus. Akhirnya, mereka sepakat untuk melenyapkan jauh-jauh Si Kelingking.

Pada suatu hari, sang ayah mengajak Si Kelingking ke hutan untuk mencari kayu. Setibanya di sedang hutan, sang ayah langsung menebang pohon besar yang diarahkan kepada anaknya. Beberapa kala kemudian, pohon besar itu pun roboh menimpa Si Kelingking. Setelah meyakinkan dan percaya anaknya mati, sang ayah langsung kembali ke rumahnya. Mendengar cerita suaminya, sang istri pun jadi senang. Mereka lupa bahwa membunuh anak sendiri adalah tingkah laku tercela.

“Bang! Mulai hari ini, hidup kami dapat tenang,” kata sang istri kepada suaminya. Baru saja kalimat itu terlontar berasal dari mulut istrinya, tiba-tiba terdengar suara teriakan berasal dari luar rumah.

“Ayah…! Ayah…! Diletakkan di mana kayu ini.” Suara keras terdengar berasal dari luar rumah.

Istrinya pun bertanya, “Bang! Bukankah anak itu udah mati?” tanya istrinya heran.

“Ayo, kami lihat!” seru sang suami penasaran. Mereka sangat terkejut menyaksikan si Kelingking sedang memikul sebuah pohon besar di pundaknya. Setelah letakkan kayu besar itu, Si Kelingking langsung mencari makanan di rumahnya. Karena merasa kelaparan, ia pun menggunakan sebakul nasi. Sementara ayah dan ibunya hanya duduk terbengong-bengong menyaksikan anaknya, tidak mengetahui apa yang mesti mereka perbuat.

Singkat cerita, biarpun udah lebih dari satu kali disingkirkan, tetapi ia senantiasa kembali lagi. Tak tersedia akal untuk mengenyahkannya kembali berasal dari kehidupan mereka. Ketika menyaksikan Si Kelingking begitu lahapnya makan dan seolah tak dulu mengetahui niat jahat orang tuanya, kelanjutannya mereka tersadar. Si Kelingking adalah darah dagingnya, udah seharusnya ia dipelihara bersama dengan baik. Sejak kala itu, mereka terima kondisi Si Kelingking apa adanya. Ternyata keberadaan Si Kelingking sangat berguna, bersama dengan tenaganya yang besar, Si Kelingking bisa jalankan pekerjaan yang berat. Pada kelanjutannya kehidupan mereka jadi lebih baik, Si Kelingking jadi sumber tambahan penghasilan keluarganya.